Jumat, 01 Februari 2013

teknik budidaya cabe


I.     PENDAHULUAN

1.1.       Latar Belakang
Cabe (Capsicum annum L.) merupakan salah satu komoditas hortikultura yang memiliki nilai ekonomi penting di Indonesia. Cabe merupakan tanaman perdu dari famili terongterongan yang memiliki nama ilmiah Capsicum sp. Cabe berasal dari benua Amerika tepatnya daerah Peru dan menyebar ke negara negara benua Amerika, Eropa dan Asia termasuk Negara Indonesia. Cabe yang ditemukan oleh Colombus memang merupakan tanaman asli Amerika Selatan. Dari sinilah tanaman ini menyebar luas ke berbagai penjuru dunia (Anonim, 2010).
Tanaman cabe banyak ragam tipe pertumbuhan dan bentuk buahnya, diperkirakan terdapat 20 spesies yang sebagian besar hidup di Negara asalnya. Masyarakat pada umumnya hanya mengenal beberapa jenis saja, yakni Cabe Besar (C. annum), Cabe Rawit (C. frustescens), Cabe Hijau (C. annuum var. annuum) dan Paprika (Setiadi, 2008).
Cabe cukup banyak ditanam oleh petani di Indonesia dari dataran rendah hingga dataran tinggi (0 - 1.200 m dpl). Tanaman cabe dapat ditanam diberbagai tipe lahan yaitu lahan sawah dan tegalan (kering). Produktivitas yang dapat dicapai dengan menggunakan teknologi budidaya yang sempurna adalah 10,8 ton/ha. Cabe digunakan untuk keperluan rumah tangga dan bahan baku industri obat-obatan. Kandungan vitamin C pada buah cabe cukup tinggi. Hal ini merupakan suatu indikator bahwa cabe dapat dikategorikan sebagai komoditas komersial dan potensial untuk dikembangkan (Anonim, 2009).
Selain digunakan untuk keperluan rumah tangga, cabe juga dapat digunakan untuk keperluan industri, diantaranya Industri bumbu masakan, industri makanan dan industri obat - obatan atau jamu. Buah cabe ini selain dijadikan sayuran atau bumbu masak juga mempunyai kapasitas menaikkan pendapatan petani. Disamping itu tanaman ini juga berfungsi sebagai bahan baku industri yang memiliki peluang ekspor (Anonim, 2010).
Dimusim hujan harga cabe cenderung melambung, dengan pengelolaan tanaman secara tradisional sulit diharapkan hasilnya yang optimal, sebab pada musim hujan serangan hama dan penyakit sangat hebat dan adanya resiko kebanjiran. Cabe ternyata mampu sebagai penyebab tingginya laju inflasi nasional, hal ini mununjukkan bahwa cabe benar-benar merupakan komoditas sayuran yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari. Selain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, permintaan akan cabe oleh industri dari hari ke hari terus meningkat, seiring dengan makin maraknya industri pengolahan bahan makanan menggunakan cabe sebagai bahan baku utamanya, misalkan sambal, saus, dan mie instan (Samadi, 1997).
Biasanya para petani menanam cabe pada saat akhir musim penghujan agar musim kemarau nantinya terjadi panen raya. Padahal saat panen raya biasanya harga cabe cenderung menurun. Untuk itu, sebaiknya penanaman cabe dilakukan pada musim kemarau agar panen dapat dilakukan pada musim penghujan. Biasanya panen pada saat itu akan memberikan keuntungan. Ini dapat terjadi karena pemasokan cabe sudah berkurang sehingga harga menjadi tinggi. Sekarang muncul pertanyaan, mengapa di bulan desember serta saat puasa dan lebaran diperkirakan harga cabe akan meningkat? Ini disebabkan curah hujan saat itu sangat tinggi sehingga kemungkinan banyak bunga yang gagal menjadi buah sangat besar. Hal ini tentunya akan mengurangi produksi cabe sehingga pemasokannyapun berkurang (Anonim, 2008).
Berdasarkan permasalahan tersebut, penulis menganggap penting melakukan praktek kerja lapangan yang telah dilaksanakan di Kelompok Tani Maju Bersama dengan judul “Teknik Budidaya Cabe (Capsicum annum L.).

1.2.       Tujuan Praktek Lapang
Adapun tujuan dilaksanakannya praktek lapang ini adalah:
1.     Meningkatkan pengetahuan mahasiswa secara langsung dalam bidang budidaya tanaman cabe (Capsicum annum L).
2.     Mempelajari teknik budidaya tanaman Cabe yang diterapkan di Kelompok Tani Maju Bersama.
3.     Untuk mengetahui hasil budidaya yang telah dilakukan.
4.     Menjalin kerjasama, hubungan sosial dan interaksi positif antara mahasiswa dengan pihak kelompok Tani Maju Bersama.

1.3.       Manfaat Praktek Lapang
Diharapkan setelah praktek lapang ini dapat menambah keterampilan dan memberikan pengalaman di lapangan bagi penulis tentang teknik budidaya tanaman khususnya pada tanaman cabe (Capsicum annum L).



II.  TINJAUAN PUSTAKA

2.1.    Syarat Tumbuh
2.1.1.   Iklim
            Iklim yang baik untuk tanaman cabe menurut Harpenas & Dermawan (2010) adalah sebagai berikut:
a.    Curah hujan
Curah hujan yang baik pada tanaman cabe adalah 6001.250 mm/tahun dengan distribusi merata. Curah hujan yang tinggi atau iklim basah tidak terlalu baik untuk cabe karena akan menyebabkan kerontokan bakal buah, merangsang perkembangan jamur yang berpotensi mengundang penyakit, serta bisa membuat bunga dan buah tumbuh kecil.
b.    Suhu udara
Suhu udara yang efektif untuk cabe adalah 21°-27° C pada siang hari dan Suhu udara pada malam hari 13°16 ° C.
c.    Kelembaban
Kelembaban yang cocok untuk cabe adalah 70-80%, artinya tidak terlalu lembab karena kelembaban yang tinggi atau lebih dari 80% memacu pertumbuhan cendawan atau jamur yang berpotensi menyerang dan merusak tanaman.

2.1.2.   Media Tanam
Menurut Setiadi (2008) media tanam yang baik untuk tanaman cabe adalah:
a.    Tanah
Tanaman cabe baik ditanam ditanah lempung berpasir atau tanah ringan yang banyak mengandung bahan organik dan unsur hara. Namun tanaman cabe juga dapat tumbuh dan beradaptasi baik pada berbagai jenis tanah mulai dari tanah berpasir, lempung, tanah merah, tanah hitam bahkan dilahan gambut.
b.    Derajat keasaman (pH)
pH tanah yang baik bagi pertumbuhan tanaman ini adalah 6-7, jika kurang atau lebih dari pH tersebut maka produktivitasnya tidak maksimal.
c.    Air
Air sangat penting bagi tanaman. Fungsinya antara lain membantu penyerapan unsur hara dari dalam tanah oleh akar, mengangkut hasil fotosintesis dari daun kebagian tanaman, serta melancarkan aerasi udara dan suplai oksigen dalam tanah. Keberadaan air harus sesuai dengan yang dibutuhkan tanaman. Lahan pertanaman yang mengalami kekurangan air akan menyebabkan  aerasi udara dalam tanah terganggu dan suplai oksigen dalam tanah tidak lancar. Akibatnya fungsi dan pertumbuhan akar terhambat dan berhenti, sehingga perkembangannya tertunda. Sebaliknya bila lahan kelebihan air maka tanah akan menjadi sangat lembab dan becek. Hal ini juga mengganggu aerasi dan suplai oksigen. Akibatnya tanaman dapat terserang penyakit busuk akar yang dapat menyebabkan kematian tanaman. Oleh karena itu, kandungan air dalam tanah harus diperhatikan dengan mempertimbangkan lokasi penanamannya. Bila lahan sawah, sebaiknya cabe ditanam pada akhir musim hujan. Sebaliknya bila lahan tegal, sebaiknya cabe ditanam pada akhir musim kemarau.

2.1.3.   Ketinggian Tempat
Tanaman cabe umumnya tumbuh optimum didataran rendah hingga menengah pada ketinggian 0-800 m dpl. Cabe juga dapat tumbuh didaerah basah dan kering atau didaerah dataran rendah hingga pegunungan sampai ketinggian 1.300 m dpl. Pada ketinggian 1.300 m dpl cabe tumbuh sangat lambat dan pembentukan buahnya juga terhambat (Setiadi, 2008).

2.2.    Jenis-Jenis Cabe  
Cabe memiliki bermacam-macam jenis yaitu: cabe besar, cabe keriting, cabe hijau, cabe rawit, cabe paprika, dan cabe hias. Dari semua jenis cabe diatas, semuanya merupakan cabe untuk dikonsumsi, bahkan cabe hias sekalipun. Saat ini telah banyak benih Cabe Hibrida yang beredar dipasaran dengan nama varietas yang beraneka ragam dengan berbagai keunggulan yang dimiliki.  Beberapa jenis cabe yang telah dirilis ad alah: Jet set, Arimbi, Buana 07, Somrak, Elegance 081, Horison 2089, Imperial 308 dan Emerald 2078. dan untuk Cabe Hibrida Keriting diantaranya, Papirus, CTH 01, Kunthi 01, Sigma, Flash 03, Princess 06 dan Helix 036 (Anonim, 2008).
Cabe Besar (Capsicum annuum) atau Lombok besar memiliki banyak varietas. Di Indonesia dikenal beberapa jenis varietas antara lain: cabe merah (C. annuum var. longum), cabe bulat (C. annuum var. grossum), dan cabe hijau (C. annuum var. annuum) (Setiadi, 2008).
Cabe Merah Besar, terbagi: Prabu F1, Maraton F1, Kresna F1, Adipati F1, Sultan F1, Senopati F1, Provost F1, Astina F1, dan Wibawa F1.  Cabe Rawit (C. frutescens) diantaranya, Bara, Pelita F1, Taruna, Dewata F1, dan Juwita F1. Ada juga jenis cabe lain yaitu paprika, cabe ini rasanya agak manis, jenis-jenisnya adalah: Edison dan Suniya (Harpenas, A & Dermawan, R. 2010).

2.3.       Persiapan Budidaya
Budidaya cabe merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan agribisnis cabe, dengan budidaya yang tepat, diharapkan hasil yang dicapai maksimal. Teknik budidaya cabe secara intensif untuk meningkatkan produksi, diantaranya:

2.3.1.      Pemilihan lokasi tanam
Pemilihan lokasi memiliki peranan penting dalam keberhasilan usaha agribisnis cabe. Lahan yang cocok untuk cabe, tempatnya terbuka agar mendapat sinar matahari penuh. Untuk mendapatkan kuantitas dan kualitas hasil yang tinggi, cabe menghendaki tanah yang subur, gembur, kaya bahan organik dan tidak mudah becek (Samadi, 1997).

2.3.2.      Persiapan lahan penanaman
Menurut Harpenas & Dermawan (2010) langkah-langkah dalam persiapan lahan tanam adalah:
a.    Lahan dibersihkan dahulu dari sisa-sisa tanaman atau perakaran dari pertanaman sebelumnya dan sampah-sampah lainnya harus disingkirkan dari areal penanaman.
b.    Tanah dibajak atau dicangkul sedalam 30-40 cm, lalu dibentuk bedengan-bedengan selebar 110-120 cm, tinggi 40-50 cm, dan lebar parit 60-70 cm.
c.    Disekeliling lahan kebun cabai dibuat parit keliling dengan lebar 70 cm dan kedalaman 70 cm.
d.   Setelah bedengan terbentuk, bedengan dipupuk dengan pupuk kandang yang telah matang sebanyak 1,0-1,5 kg/ tanaman.
e.    Pada tanah yang pH-nya rendah (tanah masam), bersamaan dengan pemberian pupuk kandang dilakukan pengapuran sebanyak 100-125 g/tanaman.
f.     Pupuk kandang dan kapur diaduk dengan tanah bedengan secara merata sambil dibalik, lalu bedengan dibiarkan selama 1-2 minggu.

2.3.3.      Pemasangan Mulsa Plastik Hitam Perak (MPHP)
Bedengan yang sudah diolah dan telah diberi pupuk dasar ditutupi dengan mulsa plastik hitam perak. Warna perak dari mulsa ini diletakan dibagian atas dan hitam dibagian bawah. Alasan pemasangan mulsa plastik hitam perak tersebut lebih baik karena plastik dapat memantulkan cahaya serta menjaga kestabilan suhu dan kelembaban tanah sehingga menjamin kondisi yang baik bagi pertumbuhan tanaman. Kebutuhan mulsa plastik ini berbeda sesuai dengan ukuran bedengan. Ukuran bedengan 1,2 x 10 m diperlukan 1 kg mulsa plastik berukuran lebar 1,2 cm dan panjang 22,5 m. Penanaman cabe dilakukan 20 hari setelah pemasangan mulsa plastik (Setiadi, 2008).



2.3.4.      Persemaian dan pembibitan
Bibit diperoleh dari penyemaian benih. Benih ini dapat diperoleh dari hasil pengeringan buah terpilih atau dari pembelian benih yang sudah siap disemaikan. Bedengan pembibitan harus aman dari berbagai gangguan. Salah satu caranya dengan membuat atap dari plastik transparan. Selain mencegah terpaan dari sinar matahari langsung, atap plastik juga menjaga bedengan dari siraman air hujan, hama dan penyakit, serta menjaga kelembaban. Beberapa pekerjaan yang dilakukan saat pembibitan diantaranya penyiangan, penyiraman pemupukan, serta pemeriksaan terhadap hama dan penyakit (Samadi, 1997).
Pembibitan cabe untuk penanaman dalam pot sama halnya dengan pembibitan cabe untuk ditanam untuk di lahan penanaman secara intensif. Namun cabe yang ditanam langsung ke dalam pot akan berbunga dan panen  lebih cepat dari bibit yang disemai di persemaian terlebih dahulu. Hal ini di karenakan tidak adanya masa dormansi akibat pindah tanam (Anonim, 2008).

2.3.5.      Seleksi dan perawatan bibit
Bibit yang disemaikan harus dipelihara secara rutin. Penyiraman dapat dilakukan 1-2 kali/hari atau tergantung cuaca. Penyiraman dilakukan secara berhati-hati. Penyiraman yang terlalu kencang akan merusak bibit, seperti patah, rusak, dan rebah, selain itu disarankan untuk melakukan penyemprotan pupuk daun dengan dosis rendah 0,5 g/liter air saat tanaman muda berumur 10-15 hari setelah disemai (HSS) dan penyemprotan pestisida pada konsentrasi setengah dari yang dianjurkan untuk mengendalikan serangan hama dan penyakit. Setelah berumur 1-2 minggu atau telah berdaun 2-3 helai bibit diseleksi. Pilihlah bibit yang berbatang kokoh, daun dan batang berwarna hijau segar, serta daun sehat dan normal, bibit yang brkualitas seperti inilah yang harus dirawat dengan baik sebelum dipindahkan kedalam lahan/kebun (Harpenas, A & Dermawan, R. 2010).

2.4.       Penanaman
Sebelum penanaman dilakukan, terlebih dahulu bibit diseleksi, hal ini dilakukan agar bibit yang ditanam benar-benar bibit yang sehat dan normal. Bibit cabe yang akan ditanam adalah berumur 3-4 minggu atau telah berdaun 4-6 helai. Waktu penanaman yang paling baik adalah pagi atau sore hari, karena penanaman pada siang hari Matahari sangat terik dan dapat mengakibatkan bibit akan kering dan mudah layu. Selain itu hindari penanaman saat hujan deras karena akan dapat merusak bibit yang masih kecil (Anonim, 2007).

2.5.       Pemeliharaan Tanaman 
Menurut Harpenas & Dermawan (2010) langkah-langkah pemeliharaan tanaman adalah:
2.5.1.      Pengairan (Penyiraman) 
Penyiraman dilakukan rutin setiap hari, penyiraman sebaiknya dilakukan pagi dan sore hari. Pada musim hujan, tidak perlu dilakukan penyiraman yang rutin, penyiraman dilakukan jika kondisi tanah tampak kering.
2.5.2.      Pemasangan Ajir (Turus) 
Pemasangan ajir dilakukan pada saat tanaman telah besar, untuk menopang tanaman. Umumnya pengajiran dilakukan pada saat tanaman berumur 4 minggu setelah tanam. Ajir yang digunakan biasanya berupa bilah bambu. Bilah bambu setinggi 70-125 cm, lebar sekitar 4cm, dan tebalnya sekitar 2 cm.
2.5.3.      Perempelan Daun
Selama masa pertumbuhan, batang cabe banyak ditumbuhi tunas-tunas baru yang dalam perkembangannya ikut menyerap hara dari tanah. Oleh karena itu, sejak umur 8-20 hari setelah tanam, perlu dilakukan perempelan tunas. Tunas yang dirempel adalah tunas yang keluar dari ketiak daun dibawah cabang utama. Tunas yang tumbuh diatas percabangan tidak dirempel.
2.5.4.      Pemupukan Tambahan (Susulan) 
Pupuk susulan diberikan untuk menambah kandungan unsur hara tanah lahan yang mungkin berkurang atau hilang karena siraman hujan. Jenis pupuk yang dapat menambah unsur hara N, P, K dan S adalah urea, ZA, YSP/SP-36, KCL, dan ZK. Pupuk yang dapat menambah unsur hara Ca dan Mg adalah kapur dan dolomit. Untuk penambah unsur hara mikro umumnya digunakan pupuk organik atau kompos (Anonim, 2008).
2.5.5.      Pengendalian Hama dan Penyakit
Strategi pengendalian hama dan penyakit pada tanaman cabe dianjurkan penerapan pengendalian secara terpadu. Komponen pengendalian hama dan penyakit secara terpadu (PHPT) ini mencakup pengendalian kultur teknik, hayati (biologi), varietas yang  tahan (resisten), fisik dan mekanik, cara kimiawi, dan peraturan-peraturan. Pengendalian hama dan penyakit ini dilakukan dengan penyemprotan pestisida sesuai dengan dosis yang dibutuhkan dan tepat dalam pemberian pestisida (Harpenas, A &  Dermawan, R, 2010).

2.6.       Panen
Pada dataranan rendah umumnya cabe mulai dipanen pada umur 75-80 hari setelah tanam. Panen berikutnya dilakukan selang 2-3 hari sekali. Di dataran tinggi, panen perdana dapat dimulai pada umur 90-100 hari setelah tanam. Selanjutnya pemetikan buah dilakukan selang 6-10 hari sekali. Umumnya, panen cabe dapat dilakukan 20-25 kali panen atau tergantung kondisi pertanamannya. Waktu pemanenan sebaiknya dilakukan pada pagi hari setelah embun atau air habis terhempas dari permukaan kulit buah. Hal ini dimaksudkan  agar buah yang dipetik tidak terkontaminasi oleh mikroba pembusuk (Samadi, 1997).

2.7.       Pascapanen
Penanganan pascapanen yang baik akan mengurangi persentase kerusakan atau kehilangan setelah panen. Penanganan pascapanen untuk buah segar memiliki beberapa tahap, antara lain seleksi buah, sortasi buah, penyimpanan, pengemasan, hingga pengangkutan. Berikut teknik penanganan pascapanen yang baik menurut Samadi (1997):
1.        Sortasi
Sortasi ini biasanya dilakukan oleh pedagang pengumpul guna untuk menyeleksi dan memisahkan buah cabe berdasarkan grade. Pengklasifikasian grade ini biasanya dengan pemilihan cabe yaitu dari kelas yang paling bagus, kelas yang paling jelek, dan kelas menengah dengan kondisi buah tidak terlalu bagus dan tidak terlalu jelek. Sortasi warna menjadi hal yang sangat penting bagi konsumen, sehingga harus ada upaya untuk menstabilkan warna cabe sebelum dikeringkan.
2.        Penyimpanan
Pengemasan dan penyimpanan yang benar sangat diperlukan agar mutu tetap stabil dan bisa diterima oleh konsumen. Umumnya penyimpanan dilakukan dengan menggunakan pendinginan dengan refrigerator untuk menekan laju proses fisiologi.
3.        Pengemasan
Pengemasan ditujukan untuk melindungi mutu produk dari kerusakan mekanis, fisik, dan fisiologi sewaktu pengangkutan dan bongkar-muat. idealnya kemasan harus kuat, daya lindungnya tinggi terhadap kerusakan, mudah diatasi, aman dan ekonomis. Saat ini kotak berjeruji dari bahan plastik banyak digunakan untuk pengemasan cabe. Ukurannya lebih seragam, mudah diperoleh, gampang disusun, tahan banting, dan aman.
4.        Pengangkutan
Transportasi menduduki peranan penting untuk mengangkut cabe dari lapangan ke tempat pengolahan (sortasi dan grading), pasar gudang, hingga ke tempat konsumen. Transportasi yang baik adalah menggunakan truk atau container yang bersistem udara terkendali, sehingga cabe relatif aman terhadap kerusakan fisiologi, fisik dan mekanis.







III.    MATERI DAN METODE

3.1.    Waktu dan Tempat Praktek Lapang
Praktek lapang telah dilaksanakan di Kelompok Tani Maju Bersama beralamat di Jalan Sri kurnia, kelurahan Palas, kec. Rumbai selama 4 minggu 2 hari (144 jam) yang dimulai pada bulan Januari sampai Februari 2011. Pelaksanaan praktek lapang disesuaikan dengan jam kerja di Kelompok Tani maju Bersama.

3.2.    Materi Praktek Lapang
Data yang diambil pada praktek lapang ini adalah data sekunder dan primer. Data primer diperoleh melalui wawancara langsung (purposive sampling) dengan pemilik kebun. Sedangkan data sekunder terdiri dari profil yakni kelompok Tani Maju Bersama, dari internet  dan literatur/referensi yang mendukung praktek lapang.

3.3.    Metode Praktek Lapang
Metode yang digunakan dalam praktek lapang ini adalah metode deskriptif yaitu dengan pengamatan langsung dan wawancara dengan pemilik kebun cabe, serta ikut dalam kegiatan kerja dilapangan. Adapun responden yang digunakan dalam praktek lapang ini ditentukan dengan sengaja (purposive Sampling) dengan pelaku-pelaku yang terlibat dalam pengelolaan budidaya cabe.


3.4.    Jadwal Kegiatan Praktek Lapang
Praktek lapang dilaksanakan selama 144 jam kerja (34 jam per minggu) dengan perhitungan sebagai berikut:
Tabel 1.  Jadwal Kegiatan Praktek Lapang
No.
HARI/TGL
JAM
KEGIATAN
PARAF
KETERANGAN
1.
SENIN
13.00– 15.00
Jam kerja


15.00– 17.00
Jam kerja


2.
RABU
08.00 ­- 10.00
Jam kerja


10.00– 12.00
Jam kerja


12.00– 13.00
ISHOMA


13.00– 15.00
Jam kerja


15.00– 17.00
Jam kerja


3.
JUMAT
08.00 ­- 10.00
Jam kerja


10.00– 11.00
Jam kerja


11.00– 14.00
ISHOMA


14.00– 15.00
Jam kerja


15.00– 17.00
Jam kerja


4.
SABTU
08.00 ­- 10.00
Jam kerja


10.00– 12.00
Jam kerja


12.00– 13.00
ISHOMA


13.00– 15.00
Jam kerja


15.00– 17.00
Jam kerja


5.
MINGGU
08.00 ­- 10.00
Jam kerja


10.00– 12.00
Jam kerja


12.00– 13.00
ISHOMA


13.00– 15.00
Jam kerja


15.00– 17.00
Jam kerja





























IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PRAKTEK LAPANG

4.1.    Keadaan Wilayah Praktek Lapang
Pekanbaru merupakan ibu kota provinsi Riau yang memiliki 8 wilayah kecamatan dengan luas wilayah 632.26 km2. Secara geografis, kota Pekanbaru terletak pada titik koordinat 101014’-101034’ BT dan 0025’- 0045’ LU. Kota Pekanbaru terletak pada ketinggian antara 10 - 50 m/dpl, memiliki iklim tropis dengan suhu udara maksimum berkisar antara 34,1º C - 35,6º C dan suhu minimum antara 20,2º C - 23,0º C. Curah hujan antara 38,6 - 435,0 mm/tahun. Kelembapan maksimum antara 96% - 100% dan kelembapan minimum antara 46% - 62%. Kondisi yang seperti ini menjadikan kota Pekanbaru baik untuk pengembangan dan budidaya hortikultura, terutama untuk tanaman yang dapat hidup pada iklim tropis (Anonim, 2010).
Kelompok Tani Maju Bersama ini terletak di jalan Kurnia kelurahan Umban Sari kecamatan Rumbai kota Pekanbaru. Luas lahan pertanian pada kelompok tani ini adalah 49 Ha, memiliki batas wilayah sebagai berikut: sebelah Timur berbatasan dengan Jalan Sri Palas Rumbai Bukit, sebelah Barat berbatasan dengan perkebunan kelapa sawit warga, sebelah Utara berbatasan dengan Jalan Sejahtera, sebelah Selatan berbatasan dengan Jalan Bambu Kuning (Purwohadi, 2011).

4.2.    Sejarah Berdirinya Kelompok Tani Maju Bersama
          Kelompok Tani Maju Bersama merupakan salah satu Kelompok Tani di Propinsi Riau tepatnya di Kecamatan Rumbai. Kelompok tani ini didirikan pada tanggal 17 januari 2008 oleh para petani palas yang berada di Jalan Kurnia RT.01 RW.05 dan didukung oleh Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) serta Lurah Palas. Berdasarkan musyawarah dan mufakat bersama, maka kelompok tani ini diberi nama Maju Bersama dengan ketua Purwohadi Subroto yang beranggotakan 13 orang (Purwohadi, 2011).
          Kelompok Tani Maju Bersama bergerak dibidang budidaya tanaman hortikultura dengan berbagai jenis tanaman antara lain: pepaya, jagung manis, kacang panjang, mentimun, paria, dan cabe. Luas lahan untuk tanaman cabe sekitar 8,5 Ha, tanaman pepaya 6 Ha, jagung manis 17,5 Ha, kacang panjang 12,5 Ha, mentimun 2 Ha, paria 2,5 Ha. (Purwohadi, 2011).

4.3.    Struktur Organisasi CV. Anugrah Baru
          Struktur organisasi Kelompok Tani Maju Bersama dibuat berdasarkan keputusan bersama. Berdasarkan wawancara dan pengamatan di lapangan, usaha budidaya cabe merupakan salah satu komoditi jenis tanaman yang dibudidayakan dengan usaha berskala sedang & besar. Berikut ini adalah bagan struktur organisasi Kelompok Tani Maju Bersama (Gambar 1).







V.  HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1. Jenis Cabe di Kelompok Tani Maju Bersama
Pada kelompok Tani Maju Bersama terdapat 2 jenis cabe yang dibudidayakan yaitu: cabe keriting yang bermerek Lado F1 dan Seminis TM999. Menurut Harpenas, A & Dermawan, R (2010) ciri-ciri cabe Lado F1 dan Seminis TM999 adalah:
Karakteristik tanaman cabe
Lado F1
Seminis TM999
Tinggi
100 cm
110-120
Umur panen pertama
90 HST
110 HST
Ukuran buah
18 x 0,9 cm
16 x 0,7 cm
Warna buah
Hijau sedang-merah cerah
Hijau pekat-merah cerah


5.2. Persiapan Budidaya Sebelum Tanam
5.1.1.      Survey dan Pemilihan Lokasi Tanam
Hal utama yang harus dilakukan dalam budidaya cabe menurut bapak Purwohadi (2011) adalah survey lahan. Saat melakukan survey yang perlu diperhatikan dalam pemilihan lahan budidaya adalah air, jenis tanah dan pH, alasannya adalah: (1) Air: sumber air harus ada dan persediaan air harus memenuhi untuk proses budidaya. Diperkebunan ini terdapat kolam dan aliran parit yang banyak mengandung air, sehingga memenuhi syarat untuk melakukan budidaya, (2) Jenis tanah: Cabe dapat dibudidayakan diberbagai jenis tanah mulai dari tanah berpasir, lempung, tanah merah, tanah hitam bahkan dilahan gambut. Namun jenis tanah yang paling dikehendaki oleh tanaman cabe adalah tanah lempung berpasir. Jenis tanah dilahan perkebunan cabe di kelompok tani maju bersama adalah lempung berpasir, tanah ini sangat cocok bagi tanaman cabe karena banyak mengandung unsur hara, dan (3) pH tanah: Setelah dilakukan pengukuran dengan kertas lakmus maka diketahui pH tanah dilahan penanaman adalah 5,8-6,5, ini sangat cocok bagi tanaman cabe karena pH nya netral.

5.1.2.      Persiapan Lahan
Persiapan lahan merupakan langkah awal untuk melakukan budidaya cabe. Lahan dibersihkan dengan menebas kayu dan anak kayu serta rumput-rumputan, setelah kering maka dilakukan pembakaran. Lahan dibiarkan sampai tumbuh ilalang atau rumput, kemudian disemprot dengan herbisida dalam hal ini dipakai roundoup, karena  roundoup ini adalah jenis herbisida yang sistemik yaitu kandungannya lambat terurai tapi racunnya sampai ke akar. Dalam 2 minggu rumput akan mati, lalu dilakukan pembajakan dengan hand traktor.

5.1.3.      Pembuatan Bedengan
Setelah melakukan pembajakan langkah selanjutnya adalah pembuatan bedengan. Bedengan dibentuk selebar 120 cm, tinggi bedeng 30-50 cm, panjang bedeng 20m dan lebar parit 60 cm. Beri jarak antar blok/petak bedeng 2 m dan disekeliling lahan kebun cabe dibuat parit dengan lebar 50 cm dan kedalaman 60 cm untuk pengaturan drainase. Kemudian buat arah dan tapak bedeng, jika lahan miring maka arah bedeng tidak boleh mengikuti arah kemiringan melainkan melintang agar saat hujan tidak terjadi erosi atau longsor pada bedengan.
Setelah bedengan terbentuk maka diberi pupuk dasar, adapun pupuk dasarnya adalah pupuk kandang, NPK, UREA, ZA, dan SP-36. Teknik pemberiannya adalah pupuk kandang sebanyak 5 gerobak per bedengan, aduk pupuk kandang dengan tanah bedeng , lalu biarkan selama 2 minggu. Beri fungisida agar bakteri, jamur dan virus mati, kemudian biarkan selama 2 minggu. Selanjutnya beri pupuk kimia yaitu UREA 55 kg, ZA 220 kg, NPK 147 kg, SP-36 440 kg diaduk merata, lalu campur puradan 17 kg dan borak 9 kg aduk lagi sampai merata, kemudian dibagi 136 bedengan, maka jatah pupuk 6,5 kg per bedengan. Timbun bedengan dengan membalikkan tanah bedengan untuk menutup pupuk agar tidak terjadi penguapan dan tidak terkikis oleh air. jemur lahan selama 1 bulan, kemudian pasang plastik mulsa. Buat lubang pada mulsa dengan model segitiga untuk mengurangi kerapatan, caranya dengan memanaskan kaleng berukuran diameter 8 cm lalu tekan diatas mulsa.
Gambar 2. Pengolahan Lahan
Penebasan kayu dan anak kayu
Pembakaran
Pembajakan lahan
Pembuatan Bedeng & Pemasangan Mulsa
5.1.4.      Penyemaian
Sebelum melakukan penyemaian dilakukan persiapan benih dan media semai. Persiapan benih adalah pemilihan benih, benih yang digunakan di kelompok tani maju bersama adalah cabe keriting hibrida bermerk seminis TM999 dan Lado F1. Setelah itu lakukan pembuatan media semai, campur tanah dan pupuk kandang dengan perbandingan 2:1 yakni 2 gerobak tanah dan 1 gerobak pupuk kandang, kemudian aduk dan masukkan ke polibag persemaian.
Setelah media semai siap, maka penyemaian dapat dilakukan. Benih yang dipilih tadi direndam selama 2 hari dengan memberikan fungisida (benlate) sebanyak 2 mg atau kira-kira 1 sendok teh untuk 1 L air untuk mmengantisipasi adanya jamur bawaan dari benih. Setelah 2 hari perendaman, maka air dibuang lalu bungkus benih dengan koran, kemudian dikering anginkan selama 1 malam. Selanjutnya tanam benih ke polibag lalu siram dan beri insektisida disini menggunakan Curater untuk mengantisipasi serangan serangga seperti semut.
Polibag ditutup dengan plastik mulsa selama 4-6 hari atau saat benih sudah menjadi kecambah, buat atap untuk persemaian untuk menghindari sinar matahari langsung, karena tanaman masih belum tahan kontak langsung dengan terik matahari. Melakukan penyiraman 1 kali sehari dengan hati-hati  agar kecambah tidak patah dan rusak. Setelah cabe berumur 20 hari atapnya di buka dengan bertahap yaitu mula-mula setengah hari buka, satu hari buka, 3 hari buka, dan seminggu buka, hal ini dilakukan agar cabe dapat beradaptasi dengan baik dan tidak mengalami stres. Saat cabe berumur 25-35 hari semai, maka cabai siap dipindahkan kelahan tanam.

Gambar 3. Penyemaian
Penutupan Polybag Semai
       Umur 4 hari tutup dibuka
Saat umur 7 hari
Umur 20 hari tutup atap dibuka

5.3. Penanaman
            Penanaman cabe di kelompok tani maju bersama yaitu ketika cabe berumur 25-35 HSS (hari setelah semai). Penanaman cabe dilakukakan pada pagi dan sore hari, karena penanaman pada siang hari matahari sangat terik dan dapat mengakibatkan bibit akan kering dan mudah layu, selain itu hindari penanaman saat hujan deras karena akan dapat merusak bibit yang masih kecil. Sebelum melakukan penanaman dilakukan beberapa langkah yaitu: membuat lubang tanam dan menyeleksi bibit yang terkena virus dan penyakit, kemudian bibit direndam digerobak dengan fungisida disini menggunakan benlate 1mg/L kira-kira 5 menit. Selanjutnya tanam cabe kelahan yang telah dilubangi, kemudian siram cabe dan beri insektisida disini menggunakan  puradan untuk mengantisipasi dari gigitan atau serangan hama.
Gambar 4. Penanaman
Penyeleksian Bibit Sebelum Tanam
 Perendaman Fungisida Sebelum Tanam


Penanaman

5.4. Perawatan
5.4.1.      Pengontrolan/ Pengecekan
Pengontrolan dilakukan 2-3 kali seminggu pada pagi hari untuk melihat kondisi tanaman, diawal tanam biasanya banyak dijumpai kesalahan dalam teknis menanam, selain itu juga didapati tanaman yang terserang hama dan penyakit. Berikut beberapa masalah yang dijumpai dilapangan saat awal tanam cabe yakni:
a.       Layu pada batang, hal ini terjadi akibat kesalahan teknis dalam penanaman cabe, saat hendak mengeluarkan cabe dari polibag, batang tertekan sehingga terjadi kelayuan pada batang kira-kira 2 cm sehingga batang kering dan akan segera mati, ini tidak dapat diantisipasi karena kambiumnya rusak, sehingga serapan unsur hara tidak sampai ke daun dan batang atas.
b.      Batang cabe dimakan jangkrik sehingga berbekas dan tumbang, namun biasanya cabe masih bisa diselamatkan jika batangnya tergigit sebagian, yaitu dengan cara menopang batang dengan kayu/bambu, namun jika batangnya tergigit sampai sekeliling batang atau batang sampe putus sebaiknya cabe dicabut karena kambiumnya mengalami kerusakan.
c.       Tanaman tumbang akibat menanam terlalu dangkal, saat hujan turun lebat dan angin kencang tanah terkikis sehingga akarnya keluar dan batang akan tumbang.
d.      Tanaman terkena virus cucumber mosaic virus (CMV), ciri-ciri tanaman yang terkena virus ini adalah daun mengecil, keriting, agak kekuningan seperti terlihat pada Gambar 5. Tanaman yang terkena virus sangat berbahaya jika tertanam didaerah penanaman cabe karena virus akan cepat menular. Jika kita dapati didaerah penanaman atau sekitarnya maka tidak ada toleransi pada tanaman ini, langsung dicabut dan dikuburkan atau dibuang jauh dari lahan, kemudian orang yang menyabutnya tidak diperbolehkan untuk memegang tanaman cabe lainnya guna mengantisipasi terjadinya penularan pada tanaman yang lain.
Gambar 5. Cabe terkena virus


5.4.2.      Penyiraman
Pada fase awal saat tanaman cabe masih menyesuaikan diri terhadap lingkungan penyiraman dilakukan 2 kali sehari pada pagi dan sore hari secara rutin, penyiraman dilakukan jika kondisi tanah tampak kering dan tidak hujan. Selanjutnya penyiraman dilakukan 3 hari sekali setelah tanaman tumbuh kuat dan perakarannya dalam, agar tidak terjadi kelembaban yang tinggi yang dapat mengakibatkan serangan jamur. Penyiraman juga dilakukan saat terjadi kabut dengan menyiram semua bagian tanaman untuk mengantisipasi serangan jamur dan endapan kabut.

5.4.3.      Penyulaman/ Penyisipan
Setelah dilakukan pengontrolan/pengecekan pada cabe maka 1 minggu setelah tanam mulai melakukan penyulaman cabe yang dicabut, Penyulaman dilakukan secara serentak agar tanaman seragam dan penyulaman tidak berulang-ulang. Penyulaman atau penyisipan ini hanya dilakukan saat umur tanaman belum mencapai 2 bulan setelah tanam, karena pada umur 2 bulan setelah tanam cabe sudah berbuah sehingga dalam perawatannya akan mengganggu atau merepotkan dalam penggunaan pestisida maupun pemberian pupuk, karena kebutuhan pupuk dan pestisidanya berbeda, masa panennya juga terlalu jauh jaraknya sehingga tidak dapat menunggu tanaman sisipan tersebut untuk panen artinya saat panen tanaman lain sudah tidak produktif lagi.

5.4.4.      Pengajiran
Pengajiran sangat penting dalam budidaya cabe, pengajiran menggunakan kayu dengan posisi tegak searah pertumbuhan cabe. Ajir ini berfungsi untuk menopang tanaman cabe, selain itu ajir juga berfungsi untuk tempat mengikat batang cabe. Kayu untuk ajir ini harus kuat karena jika cabe sudah berbuah maka cabe akan berat dan tidak mampu menopang tubuh dan buahnya, untuk itu ajir diikat keliling dengan tali.

5.4.5.      Pengikatan
Pengikatan batang cabe dilakukan 3-4 kali sampai berbuah (panen) guna untuk menahan batang cabe agar tidak miring dan rebah akibat terpaan angin dan beratnya cabe. Pengikatan dilakukan dengan tali rapia dengan teknik zigzag atau berbentuk angka 8 (delapan) dengan ikatan yang agak longgar agar batang cabe tidak tergesek/terbentur dengan ajir dan juga memberi ruang bagi cabe untuk bergerak. Selain itu sekeliling cabe juga diikat dengan tali rapia atau tali  nilon yaitu melilitkan tali ke kayu ajir guna untuk menahan batang cabe agar tidak rebah dan keluar dari bedengan.

5.4.6.      Perempelan/ Pemiwiwilan
Perempelan dilakukan mulai umur 14 HST (hari setelah semai) sampai masa produksi habis atau sampai tanaman mati. Perempelan/pemiwilan dilakukan 2 kali seminggu dengan merempel tunas yang tumbuh diketiak daun agar tidak mengganggu pertumbuhan cabe dan pertumbuhannya konsentrasi ke batang dan buah. Tanaman yang terkena penyakit dan virus tidak diperbolehkan dirempel atau dipegang agar terhindar dari penularan penyakit dan virus ke tanaman lain.

5.4.7.      Pemberian Pupuk Susulan
Pemupukan sangat penting bagi pertumbuhan vegetatif aktif (daun dan tunas) maupun generatif (buah dan biji). Pemupukan dilakukan dengan cara penyemprotan pupuk daun seperti baypolan dan growmore, selain pupuk daun cabe juga diberi pupuk NPK, TSP, ZA, CPN dan KCL dengan teknik sebagai berikut:
a.       Umur 1-30 HST (hari setelah tanam) pupuknya adalah: 4 kg NPK+1/2 kg CPN+1 kg TSP+30 L air pupuk kandang diaduk sampe hancur pupuknya, lalu diambil dari campuran tersebut 1/2 L+1,5 L air pupuk kandang+8L air biasa, kemudian dipupukkan ketanaman dengan takaran 250m L/tanaman.
b.      Umur 31-60 HST (hari setelah tanam) pupuknya adalah: 4 kg NPK+1/2 kg CPN+1 kg ZA+30 L air pupuk kandang diaduk sampe hancur. Tekniknya sama dengan tahap pertama namun bedanya pupuk TSP diganti dengan ZA
c.       Umur 61 hari-panen (sampe akhir produksi) teknik pemupukannya sama dengan tahap 1 dan tahap ke-2, bedanya pupuk ZA diganti dengan KCL.

5.4.8.      Pengendalian Hama dan Penyakit
Pengendalian hama dan penyakit dilakukan saat umur 15 HST dengan berbagai jenis fungisida, insektisida, dan pupuk daun dengan cara penyemprotan dengan alat semprot (Kep) bermuatan 15L. Penyemprotan dilakukan seminggu sekali yaitu dengan teknik yang dijelaskan pada tabel berikut :
Tabel 3. Jenis Pestisida yang digunakan dalam Pengendalian Hama dan Penyakit
No.
Minggu
Jenis pestisida
Dosis
1.
Minggu I
Baypolan (pupuk daun)
Aurora (fungisida)
Lannate (insektisida)
15 mL
15 mg
15 mg
2.
Minggu II
Baypolan (pupuk daun)
Pegasus score (insektisida)
Score (fungisida+zpt)
30 mL
12,5 mL
5 mL
3.
Minggu III
Growmore hijau (pupuk daun)
Curacron (insektisida)
Dithane M-45(fungisida)
30 mg
30 mg
30 mg
4.
Minggu IV
Growmore hijau (pupuk daun)
Lannate (insektisida)
Aurora (fungisida)
30 mg
30 mg
30 mg
5.
Minggu  V
Growmore merah (pupuk buah)
Pegasus score (insektisida)
Score (fungisida+zpt)
30 mg
12,5 mL
5 mL
6.

Minggu  VI

Gandasil buah (pupuk buah)
Curacron (insektisida)
Aurora (fungisida)
30 mg
30 mg
30 mg
7.
Dst



Pupuk daun, Insektisida dan fungisida diberi secara bergantian, pada umur 2 bulan pupuk daun memakai growmore merah atau gandasil B untuk memacu pertumbuhan bunga dan buah, penggunaan growmore merah dengan gandasil B dilakukan secara bergantian, sesekali diberi growmore coklat yaitu pupuk daun yang mengandung Ca (kalsium) untuk menghindari terjadinya buah rontok dan patahnya dahan dan batang, karena Ca merupakan kandungan yang memperkuat tulang baik bagi manusia, hewan maupun tumbuhan.
            Selain perlakuan diatas juga dilakukan pengendalian hama dengan memasang perangkap lalat buah bermerek leila dan glumon. Perangkap lalat buah adalah formula lem lalat yang memiliki warna dan aroma yang sangat disukai lalat buah. Pemasangan perangkap ini yang tepat saat pembungaan sampai panen.
Teknik pemasangan perangkap lalat buah adalah:
1)      Glumon/Leila berukuran 50 mL dapat dioles 17-20 botol berukuran 500mL, (2) Jarak titik perangkap 20 m × 20 m.
2)      Tinggi perangkap sesuaikan dengan tanaman (80-100 cm).
3)      Penggantian Leila/glumon dilakukan 2 minggu sekali karena lemnya sudah tidak efektif dan sudah dipenuhi oleh lalat buah.






Gambar 6. Perawatan
                   Pengajiran
     Pengikatan Batang cabe

                Penyemprotan
            Perempelan/pemiwilan

Pemasangan Perangkap Lalat Buah
Pengikatan Ajir
5.5.      Panen
Di Kelompok Tani Maju Bersama cabe mulai dipanen saat berumur 3 bulan setelah tanam dengan ciri-ciri buah masak-matang yaitu warna buah yang sudah mengalami perubahan menjadi merah sebagian buah dan merah seluruh buah, selain itu buah yang mengalami kerusakan baik terserang penyakit maupun hama juga dipanen untuk mengantisipasi terjadinya penularan yang diakibatkan penyakit dan virus tersebut. Setelah melakukan pemanenan pohon cabe disemprot dengan fungisida agar terhindar dari serangan jamur. Jumlah panen minggu pertama 30-100 kg/ha, puncak pemanenan saat cabe berumur 5 bulan setelah tanam yaitu pada saat panen ke 12-18 dengan jumlah panen 700-800 kg/ha sekali panen. Cabe dipanen dengan frekuensi 4 kali seminggu sebanyak 10 orang/Ha (purwohadi 2011).

5.6.      Pascapanen
Penanganan pascapanen di Kelompok Tani Maju Bersama dilakukan secara sederhana yaitu menyortir buah yang jelek dan rusak dengan memisahkannya dari buah yang bagus, setelah itu dilakukan pengemasan cabe dalam karung/goni lalu di jahit dengan tali, kemudian langsung dijual ke agen.






VI.  PENUTUP

6.1.    Kesimpulan
Setelah melakukan praktek lapang maka penulis menyimpulkan bahwa teknik budidaya di Kelompok Tani Maju Bersama sangat baik, karena aplikasinya yang terorganisir dengan baik mulai dari pengolahan lahan, pangolahan tanah, penyemaian, perawatan sampai panen menerapkan cara yang berpedoman pada pengalaman dan penelitian petani dilapangan. Tekniknya sudah teruji sering berhasil dan hasil panennya mencapai 90%. Selain itu mereka juga memilih mengantisipasi dari pada mengobati misalnya melarang merokok di areal kebun cabe karena mengantisipasi tercemarnya virus akibat asap rokok karena tembakau merupakan satu family dengan cabe yaitu Solanaceae. Perawatannya intensive dan penggunaan fungisida, insektisida serta pemupukan yang tepat dosis, tepat cara dan tepat waktu. Penyemprotan dilakukan dengan berbagai jenis pestisida secara bergantian agar tidak terjadi residu pada tanaman dan kandungan pestisida yang tidak sama dapat melengkapi kekurangan antar merk pestisida.

6.2.    Saran
Berdasarkan pengamatan selama praktek lapang, maka penulis menyarankan, sebaiknya penggunaan pestisida kimiawi harus diperhatikan dengan baik karena penggunaan pestisida kimiawi menyebabkan kesuburan tanah akan berkurang, dan hama-hama akan resisten terhadap pestisida. Selain itu waktu penanaman sebaiknya diakhir musim kemarau dan saat musim hujan cabe akan panen, saat musim hujan maka harga cabe naik tinggi karena banyaknya kegagalan saat musim hujan diakibatkan hama dan penyakit yang   melimpah.
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2007. Budidaya Cabe Merah Pada Musim Hujan. Agromedia Pustaka. Jakarta.

Anonim. 2008. Panduan Lengkap Budidaya dan Bisnis Cabe. Agromedia Pustaka. Jakarta.

Anonim. 2009. Teknik Budidaya Cabe. http//.www.BadanPenelitiandan PengembanganDepartemenPertanian.com. Diakses pada tanggal 08 Desember 2010. Pukul 14.10.

Anonim. 2010a. Budidaya cabe merah. http//www.budidayapertanian.com.                            Diakses pada tanggal 08 Desember 2010. Pukul 14.00.

Anonim.  2010b. Keadaan Geografis Kota Pekanbaru.  http://fajarfebrian. Wordpress.com//. Diakses pada tanggal 22 Februari 2011. Pukul 22.15.

Harpenas, A, Dermawan, R. 2010. Budidaya Cabe Unggul. Penebar Swadaya. Jakarta.

Purwohadi. 2011. Hasil wawancara. Tanggal 20 Februari 2011. Pukul 15.00

Samadi, B. 1997. Budidaya cabe merah secara komersial. Yayasan Pustaka Nusantara. Yogyakarta.


Setiadi. 2008. Bertanam Cabe.  Penebar Swadaya. Jakarta.





Lampiran 1
CONTOH KUISIONER

1.        Jenis-jenis cabe apa saja yang dibudidayakan?
2.        Langkah apa saja dilakukan pratanam?
3.        Jelaskan pengolahan tanah dan pembuatan bedengan?
4.        Bagimana teknik pembibitan cabe?
5.        Pada umur berapa cabe dapat ditanam dilapangan?
6.        Berapa jarak tanam cabe?
7.        Teknik perawatan cabe:
a.         Penyiraman
b.         Pemupukan
c.         Pengajiran
d.        Penyulaman
e.         Perempelan/pemiwilan
f.          Pengikatan 
g.         Pengendalian hama dan penyakit
       Jelaskan bagaimana teknik aplikasinya?
8.        Pada umur berapa cabe berbuah?
9.        Hama dan penyakit apa saja yang terdapat pada tanaman cabe?
10.    Jelaskan sistem panen cabe?
11.    Bagaimana penanganan pascapanen?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar